Perkenalan

Pengembangan aplikasi mobile dengan konsep Cross-platform hari ini sedang banyak diminati oleh developers. Konsep Cross-platform yaitu sebuah konsep dimana aplikasi bisa berjalan dalam banyak sistem operasi meskipun menggunakan satu penulisan kode saja dalam pembuatannya. Sehingga konsep ini lebih efektif dan efesien dalam pengerjaannya. Karena jika dikerjakan secara native masing-masing sistem operasi, otomatis harus membuat fungsi aplikasi yang sama dengan menyesuaikan bahasa pemrograman sesuai sistem operasinya tersebut. 

Misalnya kita ingin membuat aplikasi penampil cuaca untuk android dan IOS. Maka kita akan membuat dua aplikasi yang sama. Satu untuk android dibuat menggunakan bahasa JAVA atau Kotlin, sementara yang liannya untuk IOS dibuat menggunakan bahasa Swift atau Objective C. Nah jika menggunakan teknologi cross-flatform untuk membuat dua aplikasi untuk android dan IOS ini hanya menggunakan satu bahasa pemrograman saja sesuai ketentuan teknologinya.

Terdapat beberapa framework cross-flaform  yang hari ini banyak digunakan oleh Developers diantaranya adalah React Native dari Facebook, Xamarin dari Microsoft, dan Flutter dari Google. Silahkan teman-teman membuka masing-masing web dokumentasinya untuk  berkenalan lebih lanjutnya.

Untuk sekarang, pada artikel berseri ini saya akan membahas salah satu dari ketiga teknologi cross-flattform di atas yaitu Fluter dari Google. Baik, mari kita mulai dengan perkenalan.

Berdasarkan blog resminya, Flutter sudah masuk ke dalam versi 1.0 yang siap digunakan untuk produksi. Artinya flutter sudah melewati tahap beta dimana sudah bukan versi percobaan atau tahap pengembangan lagi. Dengan begitu jangan ragu jika kita ingin menggunakan flutter pada pembuatan apikasi real yang akan digunakan di kehidupan sehari-hari.

Flutter merupakan sebuah framework (Kerangka Kerja) yang pada inti teknologinya menggunakan bahasa pemrograman Dart yang dibuat oleh Google. Oleh karena itu kita di tuntuk memahami dasar-dasar pemrograman Dart supaya bisa lebih memahami flutter dengan baik. Tetapi jangan khawatir jika teman-teman sudah terbiasa dengan bahasa pemrograman yang bersifat Objek maka akan mudah untuk memaham Dart dengan cepat.

Dengan percaya diri Flutter mengklaim bahwa mereka memiliki solusi yang dapat memberikan dua elemen terbaik dalam membangun aplikasi, yaitu: memaksimalkan akselerasi grafis hardware dan pengembangan User Interface (UI). Kemudian flutter akan konsen pada dua target sistem operasi mobile terpopuler dewasa ini, tidak lain yaitu Android dan IOS.

Berikut ini merupakan karakteristik Flutter yang di kategorikan kedalam 4 dimensi:

  1. Flutter memungkinkan kita untuk membuat aplikasi yang cantik
  2. Flutter memiliki kinerja yang cepat seperti aplikasi native resminya.
  3. Flutter memiliki lingkungan kerja yang produktif karena beberapa fitur nya yang sangat bermanfaat seperti Ho Reload (Perubahan code pada aplikasi secara realtime terlihat tanpa harus rebuild).
  4. Yang terakhir Flutter bersifat opensource sehingga akan banyak masukan dari para pengembang yang lain yang berdampak positif kedepannya.

Menariknya lagi flutter mudah bahkan sebagian sudah terintegrasi dengan tool cooding terbaik seperti Visual Code Studio, Android Studio, dan IntelliJ atau editor lain yang kamu lebih sukai.

Flutter IDE. Sumber: Google Developer Blog

Sebagai gambaran flutter sudah mulai di gunakan oleh industri atau perusahaan besar misal nya seperti alibaba, Tencent dan Google sendiri. Di bawah ini merupakan video sekilas siapa saja yang menggunakan Flutter.